Monday, September 2, 2013

Serial Alkaloida: Capung Bromo



Capung-Bromo:
Ilmu Kimia, Farmakologi dan Toksikologi dari suatu Turunan Benzodifuran yang Berefek seperti LSD
Coppola M dan Mondola R1 dan Mondola R2
1Departemen Ketergantungan, ASL CN2, Viale Coppino 46, 12051, Alba (CN), Italy
2Departemen Kesehatan Mental, ASL CN1, Via Torino 70/B, 12037, Saluzzo (CN), Italy


diIndonesiakan oleh rn sakti dari Artikel Riset:
‘Addiction: Research & Therapy - Volume 3 • Issue 4 • 1000133 J Addict Res Ther
ISSN:2155-6105 JART an open access journal


Abstract Abstrak
Bromo-DragonFly is a potent and long-acting psychedelic drug producing both LSD-like effects and amphetamine activation. This drug appeared within the recreational drug market in the early 2000s, since then, many cases of severe intoxication and fatalities related with its consumption have been signalled in some countries. The aim of this paper is to summarize the clinical, pharmacological and toxicological information currently available about this new and dangerous hallucinogenic substance of abuse. Capung-Bromo merupakan suatu obat psikedelik yang kuat dan berdurasi lama yang memberi efek aktivitas baik seperti LSD maupun seperti amfetamin. Obat ini muncul di pasar obat-obatan rekreasional di awal tahun 2000an, lantas, banyak kasus yang sangat memambukkan dan kematian yang berhubungan dengan penggunaan obat ini telah muncul di beberapa Negara. Tujuan dari artikel ini untuk meringkas informasi klinis, farmakologis dan toksikologis terkini yang bisa diperoleh tentang penyalahgunaan zat halusinogen yang berbahaya yang baru ini.


Keywords: Bromo-DragonFly; Bromo-benzodifuranil-isopro­pylamine; Spamfly; Fly-compounds; Phenethylamines Katakunci: Capung-Bromo (Bromo-DragonFly); Bromo-benzodifuranil-isopropilamin; Spamfly; Melayang (Fly); Fenetilamin.

Pendahuluan
Dalam dekade terakhir, penyebarluasan obat-obatan psikotropika yang menjadi keluarga (merupakan turunan) fenetilamin telah semakin meningkat [1,2]. Obat-obatan tersebut kadang dibuat secara illegal di laboratorium bawah tanah atau dipasarkan lewat internet oleh toko-pintar dan pemasok bahan kimia penelitian [1,3]. Kini, suatu senyawa yang berhubungan dengan fenetilamin yang bernama BromoDragonFly (BDF) telah memperoleh ketenaran yang luas di kalangan orang muda untuk efek yang seperti LSD [4]. BDF merupakan zat psikedelik sintetis yang kuat dan berdurasi aktif lama yang digunakan sebagai obat plesir sejak tahun 2001 [4]. Obat ini, juga disebut ABDF, FLY, DOB-Dragonfly, spamfly, placid, B-fly, 3C-Bromo-Dragonfly, bromo-benzodifuranil-isopropilamin, pertama kali disintesa oleh Matthew A. Parker di laboratorium David E.Nichols di Universitas Purdue di tahun 1998 sebagai suatu penetlitian baru untuk menyelidiki struktur dan aktivitas sistim syaraf pusat (CNS) serotim reseptor [5]. Nama BDF diambil dari penyusunan ulang kerangka bangun struktur molekul dan dragon fly untuk keberadaan dua cincin furan yang saling bertolak belakang pada cincin pusat fenil yang membentuk sayap (Gambar-1). Belum ada studi epidemilogis yang menyelidiki penyebaran BDF di masyarakat (pengguna), tapi sejak obat ini muncul di pasar obat plesir, beberapa kasus seperti mabuk yang hebat dan kematian telah dihubungkan dengan pemakaian zat itu di beberapa Negara [3,4,6-10]. Selanjutnya secara berturut-turut, 1230 dan 7600 rekam investigasi kepolisian tentang BDF telah dibuat di Finlandia di tahun 2009 dan 2010 [11]. Sebagai tambahan, pembahasan tentang obat halusinogen ini di antara para pengguna masih bisa diikuti secara langsung dalam forum obat ini [12-16]. Akhirnya, dengan menggunakan pencarian pada Google Insights, suatu pola pencarian yang menggunakan spesifikasi jenis, tempat pencarian, dari wilayah mana dan sifat zat, telah menunjukkan kalau ada perhatian yang meningkat akan obat ini berasal dari eropa hingga amerika utara di tahun ini [17]. Selain menjadi suatu zat yang bisa menyebabkan suatu hal yang menunjukkan kekuatan obat ini dan perihal daya mabuknya [9], masih sangat sedikit informasi tentang bahaya penggunaan jangka pendek (acute) dan penggunaan jangka panjang (chronis) dari daya racunnya pada manusia. Tujuan artikel ini untuk merangkum informasi terkini yang bisa diperoleh perihal klinis, farmakologis dan toksikologis dari penyalahgunaan zat halusinogen yang baru dan berbahaya ini.

Metoda
Bisa dicari literature ini dalam kumpulan data elektronik seperti: PubMed, Embase, PsycINFO, Cochrane database, TOXNET, dan MedScape. Kata kunci yang digunakan: Bromo-DragonFly, ABDF, FLY, DOB-Dragonfly, spamfly, placid, B-fly, 3C-Bromo-Dragonfly, bromo-benzodifuranil-isopropilamin. Selanjutnya, berikan spasi pada artikel ilmu pengetahuan resmi dan meminta untuk memperoleh pencarian data seluas mungkin, hasilnya disatukan bersama dengan semua informasi yang berhubungan yang bisa diperoleh dalam suatu pustaka yang tidak konvensional seperti drugs forum, web-journal dan brankas data bahan kimia. Referensi yang tidak konvensional itu dicari dengan mesin pencari Google dan bisa menemukan semua hal dari kami yang berhubungan tentang laporan atau eksperimen pribadi yang memberi penjelasan tentang efek psikotropikanya, efek samping, rasa penggunaannya dan kecenderungan penyalahgunaan dengan mengkonsumsi BDF. Tidak ada batasan bahasa yang digunakan dalam pencarian itu.

Sifat Kimia
BDF, nama IUPAC adalah 1-(8-bromobenzo [1,2-b;4,5-b’]difuran-4-yl)-2-aminopropana, merupakan suatu senyawa yang berhubungan dengan fenetilamina yang masuk dalam kelas benzodifuran [18]. Zat ini, formula molekul-nya C15H12BrNO2, tersedia secara umum dalam warna pink atau bubuk Kristal putih. Basa bebasnya memiliki BM 294.14389 g/mol dan TL 240oC. BDF umumnya disalurkan oleh fabrik sebagai suatu garam HCl yang larut dalam air dengan BM 330.61 g/mol [18-20]. Selanjutnya, produk ini digunakan untuk kepentingan rekreasional (plesiran) yang juga dipasarkan dalam bentuk cairan, yang diresapkan pada kertas dan dalam tablet [17,18].

Pharmacology Farmakologis
Studies in vitro and in animal models have shown that BDF is the most potent of the dihydrobenzofuran analogues with high affinity binding to the 5HT2A receptor [5,19]. BDF exists in two stereoisomeric forms R and S, and R-enantiomer shows more potency and more affinity to the 5HT2A receptor than S-enantiomer [5]. In drug discrimination studies in LSD-trained rats, used as an initial screen for evaluating the behavioural activity or hallucinogenic potential of new molecules, BDF was slightly more potent than LSD [5,19]. Furthermore, BDF showed to be a very potent ligand for the cloned human 5HT2A and 5HT2C receptors [19]. BDF also acts at 5HT2B receptor, but with an affinity lower than at 5HT2A receptor [21]. In addition, some data suggest that BDF acts as an agonist at α1-adrenergic receptor [4,22]. The action at both α1-adrenergic receptor and serotonin receptor in blood vessels could explain BDF induced severe vasoconstriction [4,22]. Studi in vitro dan dengan model hewan telah menunjukkan kalau BDF analog dihidrobenzofuran yang paling kuat dengan ikatan afinitas yang tinggi terhadap reseptor 5HT2A [5,19]. BDF hadir dalam dua bentuk stereoisomer yaitu R dan S, dan R-enansiomer lebih kuat dan lebih mengikat afinitasnya ke reseptor 5HT2A dari pada S-enansiomer [5]. Dalam studi pembedaan obat dengan tikus yang teruji dengan LSD, digunakan sebagai saringan awal untuk mengevaluasi aktivitas perilaku atau kekuatan halusinigen dari molekul baru, BDF sedikit lebih kuat dari LSD [5,19]. Selanjutnya, BDF menunjukkan suatu ikatan (ligan) yang sangat kuat ke reseptor cloned manusia 5HT2A dan 5HT2C [19]. BDF juga memberikan aksi pada reseptor 5HT2B, tetapi dengan afinitas (daya gabung/tarik) yang lebih lemah dibandingkan pada reseptor 5HT2A [21]. Tambahan, beberapa data menunjukkan kalau BDF memberikan suatu aksi sebagai agonis pada reseptor α1-adrenergik [4,22]. Aksi (kejadian) pada reseptor α1-adrenergik dan reseptor serotonin di dalam pembuluh darah dalap menjelaskan BDF memberikan induksi vasoconstriksi yang kuat [4,22].

Rasanya (Cara) saat penggunaan
Seperti LSD, BDF umumnya digunakan dalam bentuk rembesan kertas. Beberapa laporan mengusulkan penggunaan BDF lewat insuflasi hidung dan pemakaian dalam bentuk cairan, kadang kala dalam bentuk tablet. Formulasi cairan kadang kala dicampur (assumed) pada keeping gula. Informasi para pengguna mengusulkan kalau BDF kadang kala dikonsumsi dengan mengkombinasikannya (menggabungkannya, mencampurkannya) dengan zat psikotropika lainnya seperti: amfetamin, kokain, katinon sintetis, ketamin, kanabis, alcohol, benzodiazepine, kratom, LSD, 2C-B [4,7,10].

Toksikologi (Daya Racun/Kemampuan Memabukkan)
BDF digunakan orang karena lamanya durasi efeknya yang seperti LSD [4]. Dilaporkan dosisnya sekitar 100-2100 μg, secara khusus, batch yang kuat di Eropa umumnya mengandung zat aktif ini 200-500 μg sementara yang lemah, batch amerika antara 800-2100 μg [12,23]. Efek yang diperoleh antara lain: kaleidoskopis, halusinasi, penyimpangan persepsi atas ruang dan waktu, visualisasi warna yang beresolusi tinggi, kegemerlapan lampu, peningkatan energy, meningkatnya pemikiran bersahabat, sejahtera (enak), memperpanjang kenikmatan seksual dan eforia yang lembut. Penggunaa melaporkan kalau ada efek psikotropika dalam 20-90 menit dengan pemakaian oral dan 30-60 menit dengan pemakaian lewat hidung [4,7,10]. Pengguna juga melaporkan adanya penundaan aksi ‘on’ hingga 6 jam setelah penggunaan oral, khususnya jika BDF dimakan saat kenyang. Dalam keadaan ini, mereka dapat mencoba dosis lain atau memikirkan obat lain yang dosis pertamanya bisa memberikan efek psikotropika [4,7,10]. Durasi aksinya antara 6-24jam dengan lamanya masa redah hingga 2-3hari [4,7,10]. Efek yang tidak diinginkan antara lain: lamanya halusinasi, eforia, flashback, kegelisahan, insomania yang hebat, kepala pucing, kebingungan, sedikit perubahan pada ingatan, berangan-angan, pemikiran yang paranoid [4,7,10]. Dalam laporan kasus itu diperoleh dari perawatan medical setelah mengkonsumsi obat plesiran BDF, efek samping yang paling umum adalah: tachycardia, tekanan darah tinggi, hyperpyrexia, mydriasis, agitasi (gangguan) psikomotor, halusinasi, serangan (kejutan) yang sama rata (generalized seizures), rhabdomyolysis, masalah pernafasan, gangguan hati dan ginjal, peripheral ischaemia [24,27]. Pasien yang dirawat dengan beragam obat vaso-dilating seperti inhibitor ACE, nitroprusside, analog prostacylin, gliseril tri-nitrat,calcium channel blockers, tetapi tak satupun dari mereka yang dilaporkan efektif [26,27]. Gagal (gangguan) ginjal dirawat dengan veno-venus-hemodiafiltration sementara komplikasi seperti aspiration pneumonia dan gangguan pernafasan dirawat dengan intravenous antibiotics dan bantuan pernafasan [25-27]. Kalau pun ada, agitasi dan simpton psikotis dirawat dengan intravenous benzodiazepines dengan dosis yang lebih besar [24,25]

Fatalitas
Beberapa (penyebab) kematian berhubungan dengan penggunaan BDF telah bermunculan di beberapa Negara berbeda seperti Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark dan Amerika Serikat [3,6,726-28]. Meski demikian, hanya sangat sedikit yang telah dipublikasikan tentang analisis toksikologis paska kematian (post-mortem toxicological analysis). Dalam kasus yang dilaporkan dari Denmark, seorang wanita 18tahun ditemukan mati setelah mengkonsumsi cairan BDF. Telah dideteksi adanya BDF di dalam femoral bood (darah femoral) dengan konsentrasi 4.7±0.7 μg/kg (dua kali penentuan dalam dua rangkaian analisis). Konsentrasi BDF yang dideteksi dalam urin dan vitreous humour secara berurutan adalah 22±2 μg/kg dan 0.5±0.1 μg/kg. otopsi menemukan adanya pembukaan oedema (revealed oedema) pada paru-paru, sedikit oedema pada otak, pembesaran pada limpa, iritasi pada selaput lender di dalam perut dan perubahan ischemic di dalam ginjal. Konsentrasi darah dari BDF ditemukan di dalam kematian wanita 8x lebih tinggi daripada semua yang ditemukan dalam contoh dari dua pria yang dirumahsakitkan (yang meninggal di rumahsakit) setelah menggunakan obat plesiran BDF [3].

Pengobatan
Selama ini, tidak ada indikasi yang disepakati dari BDF dalam farmakologi manusia, meski demikian, itu diketahui melibatkan reseptor 5HT dalam aturan (biasanya terjadi, dengan adanya) tekanan intraocular di dalam manusia. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa berbagai ikatan (ligan) reseptor serotonin 5HT1A dan 5HT2A, termasuk BDF dan beberapa analognya, menyebabkan aktivitas intraocular hypotensive, pada monyet dan kelinci setelah penggunaan topical [28,29]. Itu telah diduga bahwa reseptor serotonin 5HT agonis tanpa efek psikotropik dapat dikembangkan untuk perawatan ocular hypertension (hipertensi pada mata) dan glukoma pada manusia [29].

Pembahasan
Zat halusinasi telah digunakan oleh budaya (kehidupan) asli manusia selama berabad-abad, meski demikian, penggunaannya secara umum dibatasi hanya untuk upacara keagamaan dan kepentingan penyembuhan dan diatur dalam tatacara seremonial [30,32]. Dalam decade terakir, zat tersebut telah diterima secara luas dengan sangat popular di kalangan orang muda pengguna obat-obatan yang mengalami efeknya sevara mendasar dalam ‘acara senang-senang atau pesta’ [33-35]. Penggunaan zat halusinasi untuk plesiran telah secara luas disenangi untuk lebih meningkatkan kekuatan dan molekul yang legal itu memiliki kemampuan untuk memuaskan apa yang dimaui oleh para pengguna [35]. Secara khusus, penggunaan internet sebagai suatu sumber potensial informasi tentang penyalahgunaan obat-obatan [36] yang dihasilkan di dalam penggunaan beberapa penelitian bahan kimia sebagai zat pengganti untuk obat-obatan plesiran dan zat illegal [1,37-42]. BDF merupakan suatu hasil sintesa bahan kimia di tahun 1998 untuk melacak struktur reseptor serotonin CNS dan aktivitasnya [5]. Molekul ini adalah suatu yang sangat kuat dan mengalami aksi agonist yang panjang pada reseptor 5-HT2A yang digunakan orang untuk mendapatkan efek seperti LSD [4,18,35]. Kenyataannya, sebagaimana yang ditunjukkan dari beberapa kejadian, reseptor 5HT2A merupakan lokasi utama untuk aksi halusinogen dan umumnya hampir semua obat halusinogen memberi tindakan (aksi) sebagai agonist pada reseptor ini [43]. Itu dipertimbangan bagi turunan pertama  ariletilamin untuk melampaui kekuatan LSD dalam hal upaya pengubahan perilaku dan molekul pertamanya memiliki aktivitas yang mirip dengan LSD yaitu memiliki satu inti aromatic selain benzene atau indole [19]. Molekul ini tampaknya tercirikan dalam penjualan on-line oleh pemasok bahan kimia penelitian karena sintesanya biasanya rumit buat para kimiawan klandestin dan membutuhkan peralatan canggih (operator yang berpengalaman) [44]. Menentukan pola tiksitas akut yang dimunculkan oleh kedua hal baik itu kasus intoksikasi (keracunan/kemabukan efek dari bekerjanya zat aktif) yang ditunjukkan di beberapa Negara dan laporan para pengguna yang dihadirkan dalam drug forum termasuk efek psikedelik yang digabungkan dengan aktivitas seperti amfrtamin [4,7,10,25,27-29]. Selanjutnya, kemampuan yang meliputi stimulasi 5HT2A dan reseptor α1-adrenerjik dapat menjelaskan adanya konstraksi pada pembuluh halus sel urat (otot) dan memberikan konsekuansi vasokonstriksi (kontraksi pembuluh darah) yang hebat [4,23,44]. BDF adalah suatu zat yang dianggap menyebabkan (adanya) perhatian dalam kaitannya dengan kekuatannya dan daya toksik dan banyak Negara telah mempublikasikan peringatan bahaya tentang toksisitasnya [9,44]. Orang yang mudah terpancing dapat didorong untuk menggunakan BDF lewat komentar on-line dan video yang menegaskan tentang kekuatan dan lamanya kejadian halusinogen berlangsung [35]. Selanjutnya, dalam apa yang disebut sebagai “rave atau party scene”, beberapa pengguna yang belum pernah merasakan halisinogen ini dapat tertipu karena membeli yang ditukarkan dengan LSD [4,18]. Mengingat tingginya toksisitas klinis, ketajaman perhatian komunitas kesehatan menjadi penting sekali untuk maksud mencatat dan mengawasi penyebaran halusinogen serotonerjik yang maha kuat ini.

Kesimpulan
BDF adalah suatu obat psikedelik yang kuat dan beraktivasi lama yang menghasilkan dua efek seperti LSD dan amfetamin.  Informasi yang ada kini mengusulkan kalau obat ini dapat menghasilkan intoksinasi (kemabukan) yang hebat dengan komplikasi medical yang serius termasuk rhabdomylysis, masalah pernafasan, gagal liver dan gagal ginjal, pheripheral ischaemia dan psychosis. Gabungan potensi farmakologikal dan toksisitas klinis dengan konsumsi zat ini menjadi alasan perhatian bagi komunitas kesehatan. Suatu kerjasama internasional yang lebih baik adalah sangat diperlukan dalam maksud untuk memonitor dan mencegah penyebaran zat rekreasional yang berbahaya ini.

PUSTAKA
1.        European Monitoring Centre for Drugs and Drug Abuse (2012) EMCDDA-Europol 2011 Annual Report on the implementation of Council Decision 2005/387/JHA.
2.        Ramsey J (2011) Detecting and monitoring new psychoactive substances in wastewater.
3.        Andreasen MA, Telving R, Birkler RI, Schumacher B, Johannsen M (2009) A fatal poisoning involving Bromo-Dragonfly. Forensic Sci Int 183: 91-96.
4.        Psychonaut Web Mapping Project Research Group.
5.        Monte AP, Marona-Lewicka D, Parker MA, Wainscott DB, Nichols DE (1996) Dihydrobenzofuran analogues of hallucinogens. 3. Models of 4-substituted (2,5-dimethoxyphenyl)alkylamine derivatives with rigidified methoxy groups. J Med Chem 19: 2953-2961.
6.        MacDonald AM, Kinniburgh D, Lyon AW (2011) A Novel Designer Drug-Bromo-Dragonfly. Therapeutics & Toxins News.
7.        Parr S (2011) Substance Abuse in the 21st Century: A New Look.
8.        Second Victim Dies After Taking Designer Drug In Konawa.
9.        European Monitoring Centre for Drugs and Drug Abuse. EMCDDA-Europol 2009 Annual Report on the implementation of Council Decision 2005/387/JHA.
10.     Belgian Early Warning System on Drugs (BEWSD) (2011) Warning about lethal batch of 2C-E.
11.     European Monitoring Centre for Drugs and Drug (2012) Abuse Statistical bulletin 2012 Other substances seized, 2004 to 2010.
12.     Erowid Experience Vaults.
13.     Drugs-Forum (2012).
14.     Drugs, Booze (2012).
15.     Bluelight (2012).
16.     Zoklet (2012) Self experiences.
17.     Google Insights for Search 2012.
18.     Dargan P, Wood DM (2010) Technical profile of bromo-dragonfly. European Monitoring centre for Drugs and Drug Addiction.
19.     Parker MA, Marona-Lewicka D, Lucaites VL, Nelson DL, Nichols DE (1998) A novel (benzodifuranyl) aminoalkene with extremely potent activity at the 5-HT2A receptor. J Med Chem 41: 5148-5149.
20.     ChemSpider (2012) Bromo-DragonFly.
21.     Dipartimento Politiche Antidroga (2009) 1-(8-bromobenzo[1,2-b;4,5-b’] difuran-4-yl)-2-aminopropane (Bromo-Dragonfly).
22.     Brown JS, Davis GB, Kearney TE, Bardin J (1983) Diffuse vascular spasm associated with 4-bromo-2,5-dimethoxyamphetamine ingestion. JAMA 249: 1477-1479.
23.     Darryl (2008) Bromo-Dragonfly & the DEA Microgram Bulletin. CNS Productions.
24.     Nielsen VT, Hogberg LC, Behrens JK (2010) Bromo-Dragonfly poisoing of 18-year-old male. Ugeskr Laeger 172: 146-152.
25.     Wood DM, Looker JJ, Shaikh L, Button J, Puchnarewicz M, et al. (2009) Delayed onset of seizures and toxicity associated with recreational use of bromo-dragonFLY. J Med Toxicol 5: 226-229.
26.     Personne M, Hulten P (2008) Bromo-Dragonfly a life threatening designer drug. Clin Tox 46: 379-380.
27.     Thorlacius K, Borna C, Personne M (2008) Bromo-dragon fly-life-threatening drug. Can cause tissue necrosis as demonstrated by the first described case. Lakartidningen 105: 1199-1200.
28.     Feng Z, Mohapatra S, Klimko PG, Hellberg MR, May JA, et al. (2007) Novel benzodifuran analogs as potent 5-HT2A receptor agonists with ocular hypotensive activity. Bioorg Med Chem Lett 17: 2998-3002.
29.     May JA, McLaughlin MA, Sharif NA, Hellberg MR, Dean TR (2003) Evaluation of the ocular hypotensive response to serotonin 5-HT1A and 5-HT2A receptor ligands in conscious ocular hypertensive cynomolgues monkey. J Pharmacol Exp Ther 306: 301-309.
30.     Shepard GH Jr (1998) Psychoactive plants and ethnopsychiatric medicines of the Matsigenka. J Psychoactive Drugs 30: 321-332.
31.     Lowy B (1971) New records of mushroom stones from Guatemala. Mycologia 63: 983-993.
32.     Schultes RE (1969) Hallucinogens of plant origin. Science 163: 245-254.
33.     Klein M, Kramer F (2004) Rave drugs: pharmacological considerations. AANA J 72: 61-67.
34.     Lassen JF, Ravn HB, Lassen SF (1990) Hallucinogenic psilocybine containing mushrooms. Toxins contained in Danish wild mushrooms. Ugeskr Laeger 152: 314-317.
35.     Corazza O, Schifano F, Farre M, Deluca P, Davey Z, et al. (2011) Designer drugs on the internet: A phenomenon out-of-control? The emergence of hallucinogenic drug Bromo-Dragonfly. Curr Clin Pharmacol 6: 125-129.
36.     Eurobarometer (2011) Young people and drugs: Analytical report
37.     Coppola M, Mondola R (2012) Research chemicals marketed as legal highs: The case of pipradrol derivatives. Toxicol Lett 212: 57-60.
38.     Coppola M, Mondola R (2012) 3,4-methylenedioxypyrovalerone (MDPV): chemistry, pharmacology and toxicology of a new designer drug of abuse marketed online. Toxicol Lett 208: 12-15.
39.     Hughes B, Winstock, AR (2012) Controlling new drugs under marketing regulations. Addiction.
40.     Gibbons S (2012) ‘Legal highs’--novel and emerging psychoactive drugs: a chemical overview for the toxicologist. Clin Toxicol (Phila) 50: 15-24.
41.     Sainsbury PD, Kicman AT, Archer RP, King LA, Braithwaite RA (2011) Aminoindanes--the next wave of ‘legal highs’? Drug Test Anal 3: 479-482.
42.     Van Hout MC, Brennan R (2011) ‘Heads held high’: an exploratory study of legal highs in pre-legislation Ireland. J Ethn Subst Abuse 10: 256-272.
43.     Nichols DE (2004) Hallucinogens. Pharmacol Ther 101: 131-181.
44.   Huntington BC (2009) Synthesis and intermediate/by-product analysis of Bromo-dragonfly, a dihydrobenzofuran analogue of phenethylamine hallucinogens.



--- Robertus: Independent Researcher and Consulting ----
2011-2013


Wednesday, November 7, 2012

Alkaloid

Mengenal Kimia Alkaloid 
Referensi:
1. Modern Alkaloids,Struktur, Isolasi, Sintesa dan Biologi, Ernesto Fattorusso, dkk.
2. Organic Reactions serial, Roger Adam (Editor)
3. Amfetamin dan Turunannya, Otto-Snow
4. UNO-DC Serial Regulation and Standard

Alkaloid umum didefinisihkan sebagai suatu senyawa karbon yang memiliki kandungan atom Nitrogen. Senyawa Alkaloid dapat ditemukan diberbagai macam sumber, baik nabati maupun hewani. Keunikan dan ajaibnya senyawa ini membuat manusia sejak zaman purba memanfaatkannya sebagai bahan yang disebut psikedelik, atau ada yang menggunakan sebagai sarana halusinasi, yang hampir pasti digunakan sebagai bahan pembantu suatu perjalanan spiritial. Oleh karena mempelajari dan mengenal lebih dekat bahan alkaloid ini secara pandang kimiawi terasa penting sebagai pengetahuan yang berguna buat pembaca. Pengenalan secara kimiawi menjadi penting karena beberapa bahan penyusun di dalam pembentukan senyawa tiruannya - karena memberikan dampak bahaya - dikontrol di dalam beberapa peraturan hukum. Untuk itu beberapa uji atas keberadaan beberapa senyawa yang berbahaya secara hukum dilakukan oleh lembaga berwenang secara internasional. Hal ini dapat terlihat dari beberapa standar prosedur pengujian keberadaan senyawa alkaloid yang berbahaya secara hukum seperti Heroin, Cocaine, Amfetamin dan methamfetamin. Lembaga penyelenggara standard uji tersebut adalah UNO-DC atau lembaga PBB untuk Obat-obatan dan kriminal yang berkedudukan di Wina - Austria. Pengenalan lebih lanjut adalah melihat aspek kimiawi dalam kemungkinan penyalahgunaan baik secara model ilegal maupun model semi-legal. Untuk hal kedua ini mungkin lebih tepatnya disebut sebagai potensi. Hal tersebut karena, sifat proses dan model baik reaksi kimiawi pembentukan maupun termodinamikanya memiliki potensi untuk bisa terjadi. Dan untuk itu terasa perlu mengenal lebih rinci perihal reaksi kimia yang ada perihal alkaloids. Tidak semua alkaloid dinyatakan berbahaya oleh lembaga pengawasan baik Internasional maupun nasional. Pengenalan akan jenis-jenis tersebut akan dipaparkan dalam uraian tersendiri.

Sumber dari alklaoid ini berasal dari tumbuhan dan hewan. Studi-studi yang dilakukan perihal sumber tersebut telah mengantarkan para ahli alkaloid untuk mempertimbangkan bahwa suatu sintesa tiruan senyawa alkaloid memiliki keterbatasan dalam hal sifat dan kondisi reaksi pembentukannya. Hal ini yang mesih diperdebatkan secara serius di dalam membandingkan kemanjuran suatu persenyawaan asli yang terkandung  di dalam sumber alaminya; seperti contoh koka pada daun koka dan senyawa kokain yang dihasilkannya, senyawa aktif THC pada tumbuhan kanabis dan daun kanabis itu sendiri.

Dalam perkembangannya, pengetahuan tentang biosintesa dan keberadaan senyawa alkaloid tersebut berkembang dengan maksud untuk memisahkannya dari sumber dasarnya serta memurnikannya sebagai suatu zat aktif. Kebutuhan tersebut melahirkan jenis-jenis reaksi dan prosedur metoda yang kita kenal sebagai reaksi kimia sintesa. Reaksi-reaksi tersebut berhasil disusun dengan menganalisa baik secara teori dan praktik laboratorium suatu struktur bangun senyawa aktif yang telah ditetapkan.

Reaksi-reaksi organik yang bekerja pada alkaloid umumnya bertujuan untuk, membelah, menyambung dan menyatukan bagian dari senyawa pembentuk, menjadikannya suatu senyawa antara yang tidak stabil, lalu membetukkannya ke dalam senyawa utama yang menjadi tujuan dari setiap prinsip sintesa kimia yang berbentuk stabil.

Sebagai ilustrasi, pengetahuan dan penetapan suatu struktur bangun kimia alkaloid, berpeluang secara teoritis bagi para ahli kimia untuk merancang, merencanakan serta mensiasti suatu percobaan penetapan mekanisme reaksinya. Beberapa perkembangan senyawa pokok morfin dari getah candu misalnya, dapat diilustrasikan terdiri dari beberapa kelompok senyawa yang kemudian diujiselaraskan pada beberapa sumber tanaman lain yang biasanya dikenal secara tradisi. Keselarasan efek pada manusia, bisa menjadi bahan pertama untuk mengelompokkannya sebelum benar-benar diujilabkan, selain pengenalan struktur bangun kimianya.

Sebut saja senyawa morfin yang dihasilkan dari getah opium, dalam perkembangannya ditemukan memiliki beberapa varian lain yang ternyata secara kimiawi bisa dibentuk dan atau terbentuk dalam kondisi sifat kimia dan fisik yang stabil. Begitu juga perkembangan yang ada pada THC di dalam cannabis, cocaine pada daun koka serta berbagai varian dari senyawa kimia di dalam tanaman peyote atau kaktus dan efedra.

Secara sederhana, sifat halusinasi dari senyawa alkaloid, sebagaimana diuraikan pada definisi sederhana di atas dikarenakan oleh adanya unsur N, yang bersifat sangat reaktif terhadap Oksigen. Akibat sifat reaktif tersebutlah kemudian kondisi reaksi dari setiap jenis alkaloid tersebut dianarsirkan pada respon syaraf bauk manusia maupun hewan uji lainnya untuk menetapkan dampak psikis dan biologis yang diterima jika mengkonsumsinya.


nov-2012


Monday, October 26, 2009

Seri-9: Mengenal Ilmu Kimia

Warna dan Analisis Kimia

Penunjukkan atau indikator warna telah menjadi hal utama di dalam menentukan hasil suatu analisis. Hal ini umum dikenal di dalam pengetahuan dasar kimia analitik. Salah satu contohnya dap[at kita temukan di dalam metoda H2S/Na2S untuk analisis kualitatif unsur dan senyawa kimia.

Berbagai macam warna seperti kuning, putih, coklat, biru, hitam dan campurannya umum menjadi penunjuk adanya unsur atau senyawa secara kualitatif di dalam suatu bahan. Dengan kata lain, warna adalah (petunjuk dan penunjuk) kualitatif.

Rincian Warna dan Penunjukkannya

Tuesday, October 20, 2009

(Seri-8 Mengenal Ilmu Kimia) - Healing and Chemistry

Pengantar

1. Warna dan Energi Penyembuhan

Ada beberapa model penyembuhan alternatif non medik, dikenal sebagai penyembuhan tradisional dengan menggunakan warna. Umum diperkenalkan dengan penggunaan warna pakaian yang melekat pada badan pasiennya ataupun warna makanan, entah itu sayur-sayuran, lauk-pauk, makanan ringan seperti kue, bolu, ataupun minuman.

Menarik memperhatikan bahwa warna ini bisa membantu pasien untuk menyembuhkan dirinya. Penyembuhan yang terbantukan ini meliputi penyembuhan psikis bahkan juga penyembuhan medis. Lebih dari itu pengenalan akan metoda warna (tentunya diperuntukkan bagi yang bukan buta warna), bahkan dipergunakan di dalam berbagai hal menyangkut simbol penyimpan pesan, seperti di dalam bidang elektronik dan kelistrikan, sistem badge seragam pembagian divisi kerja, bahkan dalam beberapa pola komunikasi non-verbal.

2. Warna dalam Hubungannya dengan Ilmu Kimia

Warna di dalam ilmu kimia memainkan peran sebagai indikator yang umum digunakan sebagai tanda berhasilnya atau gagalnya suatu reaksi ataupun juga sebagai petunjuk keberadaan kondisi tertentu suatu sifat senyawa.

Ilmu kimia menerjemahkan warna dalam pengertian umum fisika sebagai earna tampak dan warna pasangannya (komplementer). Setiap warna menjadi ada karena kemampuannya menyerap warna dengan kemampuan menyimpan sejumlah energi tertentu dan memancarkannya juga dengan energi tertentu. Oleh karenanya kita bisa menentukan warna yang terlihat akibat pancaran dengan panjang gelombang tertentu. Energi yang tersimpan atau disimpan dan energi yang dipancarkan oleh sesuatu benda memiliki hubungan berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya. Energi yang besar (dalam ukuran manual bisa kita sebut panas) memiliki panjang gelombang yang (paling) pendek.

Dengan asumsi seperti itu, maka, penggunaan warna dalam penyembuhan rematik, gangguan ginjal, gangguan tulang, bahkan tumor, yang dimungkinkan secara tradisional ternyata memiliki penjelasan ilmiah seperti hal di atas.

Asumsi seperti itu juga menjadi dasar mengapa dalam hal konsumsi makanan baik itu lauk-pauk, sayuran dan minuman, warna yang ada pada mereka dianggap bisa membantu dalam penyembuhan.

Contoh:

Pakaian berwarna Ungu hingga Hitam: bisa membantu untuk meningkatkan penyerapan panas matahari ke badan. Kegunaan praktis untuk membantu penyembuhan rematik, asma dan gangguan paru-paru.

3. Ringkasan hubungan Warna dan Energi (sebanding 1/nm)

Panjang gelombang (nm) Warna Warna Pelengkap

400 - 435 jingga kuning-hijau
435 - 480 biru kuning
480 - 490 hijau-biru oranye
490 - 500 biru-hijau merah
500 - 560 hijau ungu
560 - 580 kuning-hijau jingga
580 - 595 kuning biru
595 - 650 oranye hujau-biru
650 - 750 merah biru-hijau

masih banyak jenis warna yang tidak tertea pada tabel di atas, yang bisa dilakukan pendekatannya secara manual, contoh warna coklat, abu-abu, warna hitam dan sebagainya.

Selanjutnya, akan coba dikenalkan beberapa anggapan tradisional tentang pengartian warna yang sebenarnya serba realtif. Kajian yang mendalam akan stimulus warna dasar terhadap warna komplementer lah sebenarnya menjadi kunci bahwa energi penyerapan dan pemancaran energi masuk akal dalam membantu penyembuhan.

Begitulah, indahnya ilmu kimia mencoba memahami gejala alam hingga memiliki ruang di dalam mendialogkan logika tradisi. Tulisan ini juga merupakan apresiasi pengalaman (an experience) penulis.

Semoga tulisan seri-8 ini berkenan dalam memberikan ide guna mengenalkan ilmu kimia kepada semua yang mau membaca halaman ini.

hari rabu, 21okt2009 pkl.08:56pagi

Saturday, October 10, 2009

Seri-6: Mengenal Ilmu Kimia

Apresiasi Pengetahuan Ilmu Kimia

(renspon terhadap halaman-6 Kompas tgl 13 Agustus 2009)

Mengenal Reaksi Oksidasi-Reduksi

I. Oksidasi : reaksi penambahan oksigen (O2) pada suatu zat; reaksi pengurangan, pengusiran hidrogen dari suatu zat.
II. Reduksi: pengurangan, pengusiran oksigen (O2) dari suatu zat; reaksi penambahan hidrogen pada suatu zat.
(pustaka: Godman, Arthur: Kamus Sains Bergambar; Depdikbud RI, PT. GPU, Jakarta, 1996, hal. 107)

(respon opini; sumber Kompas halaman-6 hari kamis, tanggal 13agustus 2009)
1. Gordon Brown-Perdana Menteri Inggris: Pengadilan Memalukan di Burma.
Para.-6-Kekuatan solidaritas: kalimat ke 6, 7, 8; “. . . kaum etnis minoritas dianiaya dan diserang dengan persenjataan. Media diberangus. Kebebasan berpendapat dan berkumpul ditiadakan.”

Analisis opini 1 bisa dilihat selanjutnya di www.Robertus-RIRaC.wordpress.com;

(di halaman ini penulis mencoba membuat perbandingan dengan analisis Reaksi Oksida-Reduksi).

Analisis Opini:


a. Perdana Menteri Gordon-Brown, secara tegas memunculkan respon kualitatif dalam kalimat di atas (sampling dari tulisannya) tentang adanya suatu tindakan compulsory (me-wajib-kan) dan anti kebebasan berserikat terhadap Aung San Suu Kyi di Burma. Pers sebagai suatu organisasi memiliki batas yang paling rumit untuk didefinisihkan sebagai oraganisasi perusahaan-pekerja (wartawan) karena sangat dekat dengan masyarakat dalam operasionalnya. Anarsir berdasarkan ID-FPRW (lihat di site www.Robertus-RIRaC.wordpress.com) terlihat bahwa tindakan dalam kategori pelanggaran konvensi ILO kelompok FoA (Freedom of Association), diskriminasi sangat kental. Oleh karena itu ungkapan pengantar diatas dimulai dengan merespon adanya tekanan kualitatif.

b. Demokrasi dalam reaksi kimia merupakan suatu realsi oksidasi; dimana kebebasan berkumpul dan berpendapat (FoA) merupakan suatu molekul O2 (Oksigen) yang diperlukan untuk memberikan reaksi kepada masyarakat, dengan hasil mengusir (meniadakan) kekerasan (H)azard atau segala hal yang meng(H)ambat proses demokrasi.

c. Di sisi lain, pemerintahan Burma berhak untuk menguji keberadaan regulasi hokum negara mereka menanggapi tekanan atau tuntutan internasional yang mendorong adanya penyelenggaraan standard internasional di dalam kehidupan demokrasi di Burma. Reaksi reduksi menghendaki adanya pengusiran O2 (tanggapan pemerintah Burma tidak menghendaki adanya reaksi Oksidasi di dalam kehidupan demokrasi di negerinya).

d. Kesimpulan sementara:

• Kehidupan di dalam analogi reaksi kimia kehidupan masyarakat Burma di dalam Demokrasi khususnya dalam kasus Aung San Suu Kyi adalah Reaksi Reduksi.
• Tanggapan internasional (dan bisa mungkin sifat perjuangan Aung San Suu Kyi) adalah suatu jenis analogi Reaksi Oksidasi.
• Kedua raksi ini di dalam ilmu kimia bisa menjadi padu dan dikenal dengan nama Reaksi Redoks; di mana terjadi saling membutuhkan untuk memanfaatkan O2 dan H.
• Artinya, reaksi sosial baik pemerintah (Reduksi) dan pendukung Aung San Suu Kyi (Oksidasi) secara alami telah dan sedang berlangsung secara Redoks (saling membutuhkan).

2. Kebingungan Informasi-Tjipta Lesmana:

Para.-10-“ . . . Information is not uncertainly! . . . Namun, komunikasi yang baik, mestinya, mampu mereduksi ketidakpastian.”

Analisis Opini:


e. Reaksi reduksi mensyaratkan adanya suatu reaksi kualitatif dimana terjadi pengusiran O2 (Oksigen) dengan atom (H)idrogen;

f. Hidrogen di dalam reaksi kimia umumnya (hampir selalu secara stokhiometric) memberikan hasil reaksi berupa pembentukan molekul H2O (air); yang merupakan hasil reaksi Hidrogen dan Oksigen.

g. Reaksi reduksi umumnya dimaksudkan untuk menemukan/menghasilkan suatu senyawa yang bersifat garam; atau umumnya dimasudkan untuk menghilangkan keberadaan senyawa H2O.

h. Artinya Kebingungan Informasi bisa terjadi karena belum lengkapnya keberadaan peraksi (reactants) dalam reaksi informasi yang (se)benar(nya). Informasi (dan sitemnya) sebagai reactants menghasilkan komunikasi baik sangat bergantung dari suasana reaksi yang hendak dilakukannya.

Tanggapan berdasarkan Reaksi Kimia:


i. mereduksi dikenal dalam bahasa secara umum merupakan suatu upaya meredam, melambatkan, menghambat dan mengurangi.

j. Melakukan suatu reaksi oksidasi selalu mensyaratkan keberadaan dan kebutuhan akan oksigen; umumnya reaksi oksidasi ditunjukkan dengan adanya suatu peristiwa pembakaran.

k. Secara reaksi hasil dari kedua reaksi oksidasi dan reduksi (cenderung) menghasilkan senyawa H2O (air).

l. Perbedaan utamanya adalah sifat preparasi reaksi: menambahkan O2 atau mengusir H2 terjadi di dalam reaksi Oksidasi; sedangkan menambahkan H2 atau mengusir O2 terjadi di dalam reaksi Reduksi.

KESIMPULAN:


Mudah bagi ilmu kimia untuk mengenal (mengidentifikasi), menganalisis dan mereaksikan sesuatu materi berdasarkan ketentuan reaksi kimia yang ada; begitu juga (semudah itu) sumbangsih ilmu kimia dalam mengapresiasi dan menusulkan suatu kejadian social dalam kerangka berpikirnya. -------------------------------------------- (sept-okt. 2009)

Buffer (October-09)

Buffer :

(a) suatu garam hasil reaksi antara asam dengan garamnya dan basa dengan garamnya;
(b) larutan penstabil pH;
(c) disebut juga (larutan) penyangga.

Kegunaan:

(i) penstabil/penyangga pH larutan pada tingkatan tertentu;

Contoh:
*Kita bisa temukan larutan Buffer dengan pH dari 0,x hingga 13,y. Larutan Buffer dengan pH 5,5 umpamanya dibutuhkan untuk menstabilkan reaksi pembentukan suatu senyawa yang stabil pada pH reaksi 5,5. Bergantung pada setiap jenis analisisnya, penentuan pada pH 5,5, bisa untuk penentuan baik kualitatif maupun kuantitatif; dan menggunakan indikator pH atau pun tidak.

(ii) pembentuk kestabilan kondisi reaksi untuk penentuan kualitatif dan kuantitatif;

Contoh:
** Untuk menentukan suatu senyawa yang stabil pada suatu rangkaian kinetika reaksi tertentu, biasanya digunakan pH sebagai idikasinya. Jika senyawa X terbentuk pada pH 5,5 misalnya maka penambahan buffer pH 5,5 dilakukan dan selanjutnya dilakukan penentuan seperti langkah pada contoh (i)* di atas.


Dengan gambaran sederhana di atas, aplikasi pengetahuan buffer bisa kita temukan di dalam praktik industri dan bahan di bawah ini:

(a) industri elektroplating: dipakai di dalam pengontrolan konsentrasi larutan plating;
(b) industri cat: penambahan additives anti-korosi, anti bakteri, dsbnya;
(c) industri minyak & gas: di dalam pembuatan lumpur untuk drilling;
(d) industri laboratorium: untuk analisis penetapan kadar senyawa baik kualitatif maupun kuantitatif;
(e) industri makanan dan minuman: untuk mengontrol pertumbuhan bakteri dan mempengaruhi masa layak konsumsi;
(f) dan sebagainya.